Sabtu, 25/09/2021 23:01 WIB

Hanya Karena Menanyakan Perkembangan Kasusnya, Ibu Hamil Mengaku Dianiaya di Polsek Percut Sei Tuan

Diketahui, wanita hamil tersebut bernama Deasy Natalia Sinulingga (32) dan ibunya bernama Noviritani Lumban Tobing (56) warga Jalan Baru, Kelurahan Indra Kasih, Kecamatan Medan Tembung.

Foto, Wanita Hamil Dan Ibunya usai mendapatkan perlakuan kasar. (Foto: Istimewa)

Jurnassumut.com - Hanya karena menanyakan perkembangan atas laporan kasusnya. Seorang wanita yang sedang hamil 6 bulan bersama ibunya mengaku mendapatkan perlakuan kasar dan diusir dari Polsek Percut Sei Tuan.

Diketahui, wanita hamil tersebut bernama Deasy Natalia Sinulingga (32) dan ibunya bernama Noviritani Lumban Tobing (56) warga Jalan Baru, Kelurahan Indra Kasih, Kecamatan Medan Tembung.

Keributan di Polsek Percut Sei Tuan sempat diterekam kamera handphone.

Dalam video yang berdurasi 3.26 detik memperlihatkan, seorang ibu hamil tersebut ditemani ibunya mendatangi Polsek Percut Sei Tuan.

Kejadian tersebut bermula saat ibu tersebut tak terima dengan perkaranya yang tak kunjung ditangani. Ibu lanjut usia tersebut tampak memunguti batu dari depan kantor Percut Sei Tuan.

Namun pada saat itu, ia dihalangi oleh beberapa personil berseragam biasa dan seorang PNS Polsek. Hingga terjadi dorong-dorongan.

Kemudian, ibu hamil Deasy Sinulingga berada di dalam mapolsek dan sempat terjadi adu mulut hingga akhirnya seorang petugas berbaju dinas menarik tangan si dan mendorong dengan keras wanita hamil tersebut hingga keluar pintu masuk polsek.

Selanjutnya, beberapa lemparan batu masuk terjadi dari luar ke arah polsek. Bahkan terlihat di foto yang beredar nenek renta tersebut lengan baju panjangnya koyak akibat perlakuan tersebut. Kakinya juga mengalami luka.

Buntut dari perlakuan semena-mena tersebut, akhirnya keduanya melaporkan oknum Kapolsek Percut Seituan Jan Piter Napitupulu dan anggotanya ke SPKT Polrestabes Medan dengan nomor laporan STTLP/818/K/IV/YAN:2.5/2021/SPKT/ Polrestabes Medan/Polda Sumatera Utara.

Saat ditemui di rumahnya, Deasy menceritakan kronologi kejadian sebenarnya. awalnya ia mau menanyakan kasus kekerasan yang dialaminya yang sudah dilaporkan pada Oktober 2020 di Polsek tak kunjung berjalan.

"Kami datang sama ibu saya untuk meminta penjelasan sampai di mana laporan saya tersebut, sebab sudah dari tanggal 28 Oktober 2020 hingga kini laporan penganiayaan terhadap saya tak juga ada perkembangan," ungkapnya, Selasa (20/4/2021).

Ia mengatakan, setelah menunggu di depan ruangan kapolsek, ibunya yang berjumpa Kapolsek langsung menanyakan perkembangan kasus, namun malah disebutkan masih proses.

"Saat itu ibu saya ( Noviritani ) jumpa sama Kapolsek, sebab sudah lama kali kami nunggu di dekat ruangannya. Saat ketemu, ibu saya nanya sama Kapolsek, sudah kayak mana laporan itu. Namun dijawab oleh Kapolsek masih proses, loh udah lama kali kok tak kunjung selesai," ucapnya.

Dia menuturkan, ibunya yang tak terima jawaban tersebut dan akhirnya emosi dan melempar batu namun hanya sampai halaman.

Namun, ibunya tiba-tiba ditarik bajunya hingga koyak dan kakinya terluka oleh kuatnya tarikan tersebut oleh petugas.

"Itulah ibu saya emosi, namanya udah tua, dan sakit-sakitan, ibu saya kena kanker serviks stadium 4 bang. Dilempar mamak saya polsek pakai batu tapi hanya sampai di halaman depan saja. Itulah saat itu mamak ditarik ke dalam, koyak bajunya dan jarinya terlilit. Tahulah orang tua, ditarik tanganya sama laki-laki kan pasti kuat tenaganya, makanya kami buat laporan di Polrestabes Medan," tuturnya.

Ibu Noviritani Lumban Tobing juga menyebutkan hingga saat ini masih merasakan sakit di pergelangan tangan dan jarinya.

"Ditarik orang itu saya kedalam, sampai sakit pergelangan tangan dan jari saya, maka saya minta sama Kapolda dan Kapolrestabes Medan untuk menyelesaikan kasus ini," katanya.

Saat dikonfirmasi, Kapolsek Percut Seituan, AKP Janpiter Napitupulu di ruangannya, membantah kalau ia dan anggotanya melakukan tindakan kasar pada Deasy dan ibunya Noviritani.

"Ibu ini datang sama ibunya ke Polsek untuk menanyakan perkembangan laporannya di Polsek Percut Seituan, kasus ini sudah digelar di Polda Sumut. Dan kasusnya diarahkan pada KDRT. Sementara hasil visum tidak mendukung, saksi yang ada di lokasi kejadian menyatakan tidak ada dilakukan penganiayaan, yang ada menurut suaminya itu, ia menghalangi istrinya agar tidak berkelahi dengan adik iparnya," ungkapnya, Selasa (20/4/2021).

Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa yang ada mereka (polsek) yang menjadi korban karena dilempari batu.

"Pas mereka mau meninggalkan Polsek ini, ibunya sempat berkata "saya lempar dan bakar Polsek ini nanti". Ribut lah mereka di Polsek, melihat hal itu, anggota kan langsung bereaksi mengamankan situasi, kan bisa lihat di videonya," tuturnya.

"Anggota hanya mencegah agar tidak terjadi pengrusakan, di sini kan banyak kendaraan masyarakat yang datang, kalau pecah kaca mobil kan saya yang bertanggung jawab sebagai Kapolsek. Pot bunga kita yang dirusak, kata ibu itu kakinya luka akibat dianiaya oleh oknum polisi di sini, itu adalah fitnah buat kami karena ibu itu menendang pot bunga hingga kakinya luka," katanya.

Bahkan, sambug Kapolsek, batu berserakan dari lemparan ibu itu. Kalau tindakan itu kita hentikan, saya kira ini wajar, ini adalah diskresi Kepolisian.

"Masalah baju robek itu rekayasa, mana mungkin anggota Polisi Melakukan itu," ucap Jan Piter.

TAGS : Ibu Hamil Jan Piter Napitupulu Baju Robek




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :