Sabtu, 25/09/2021 22:15 WIB

Di Sumut, Korban Penyiksaan Aparat Kepolisian Malah jadi Tersangka

Kedua korban dituduh mencuri handphone (Hp) milik AS. Sebelumnya Hp tersebut sebenarnya sudah dikembalikan keduanya kepeda AS, namun yang bersangkutan belum puas dan diduga telah menyiksa kedua korban hingga babak belur

Ket poto: Rian dan Deva usai sembuh, pada saat berada di Polsek Patumbak. Rian (kiri) mengenakan baju abu-abu, dan Deva (kanan) mengenakan baju Coklat. (Dok. KontraS Sumut)

Jurnassumut.com - Dua orang warga Medan bernama Rian dan Deva diduga telah menjadi korban penyiksaan oknum Polisi berinisial AS di sekitar Jl Sisingamangaraja, Medan, pada Selasa 29 Juni 2021 lalu.

Kedua korban dituduh mencuri handphone (Hp) milik AS. Sebelumnya HP tersebut sebenarnya sudah dikembalikan keduanya kepada AS, namun yang bersangkutan belum puas dan diduga telah menyiksa kedua korban hingga babak belur.

Staf Advokasi Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Sumatera Utara, Ali Isnandar menjelaskan bahwa KontraS Sumut bersama dengan Bakumsu akan melakukan advokasi secara intens tehadap kedua korban terduga penyiksaan tersebut.

Ali Isnandar bersama tim dan kedua korban telah mengajukan laporan polisi ke Polda Sumut pada tanggal 01 Juli 2021 berdasarkan bukti lapor STTPL/1080/VII/2021/SPKT/Polda Sumut dan STPL/50/VI/2021 Propam.

“Kami sangat menyanyangkan kejadian penyiksaan ini. Harusnya AS selaku aparat penegak hukum tidak boleh bertindak main hakim sendiri meskipun kedua korban telah mengambil HP miliknya, tapi AS cukup melaporkannya ke kantor polisi. Karena itu kami telah mendampingi kedua korban untuk mengadukan AS ke Polda Sumut," ucap Ali Isnandar dalam Keterangan Pers rilis yang disampaikan, Sabtu (24/07/2021).

Menurut KontraS, meskipun kedua korban sudah melapor, justru laporan mereka tidak ditindak lanjuti oleh Polda Sumut, malah kedua korban ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan oleh Polsek Patumbak pada tanggal 21 Juli 2021.

“Jadi sampai sekarang belum ada tindak lanjut dari Polda Sumut atas laporan yang kami ajukan, SP2HP pun tidak ada diberikan, saksi korban juga belum dipanggil. Justru sebaliknya kedua korban yang ditahan atas laporan tuduhan pencurian yang diajukan AS di Polsek Patumbak. Kalau begini kepolisian sudah berlaku diskriminasi dalam menegakkan hukum," kata Ali.

Padahal, lanjutnya, antara pelapor dan terlapor sama-sama mengajukan laporan. Harusnya Polda Sumut juga menetapkan AS sebagai tersangka dan menahannya. Seperti itu baru adil. Jangan sampai karena AS seorang polisi lalu terkesan kebal hukum.

"Kami minta Kapolda Sumut segera bertindak tegas demi menghapus budaya impunitas di tubuh Polri," katanya.

Untuk diketahui, AS juga melaporkan Rian dan Deva atas tuduhan pencurian Hp, laporan itu diajukan AS sehari setelah Rian dan Deva melaporkan AS ke Polda Sumut. Namun, hanya Rian dan Deva yang ditangkap Polsek Patumbak, sementara pembeli (penadah) tidak ditangkap oleh Polsek Patumbak.

Kordinator Divisi Bantuan Hukum pada Perhimpunan Bantuan Hukum & Advokasi Rakyat Sumatera Utara (BAKUMSU) Roy Marseb Simarmata turut menjelaskan terkait masalah kasus pencurian yang sedang dihadapi kedua korban saat ini.

“Pihak Polsek Patumbak juga tidak menjelaskan kepada kami Penasihat Hukum kapan dan dimana AS kehilangan Hp. Sedangkan dari BAP kedua korban yang kami terima, penyidik tidak ada mengajukan pertanyaan yang tujuannya untuk menguji Relevansi waktu dan tempat AS kehilangan Hp dengan posisi kedua korban,” kata Roy.

Roy menjelaskan, tindakan Polsek Patumbak untuk menahan kedua korban patut diduga bertujuan agar kedua korban mencabut laporan masalah kasus penyiksaan mereka di Polda Sumut dan berdamai dengan pelaku.

“Penahanan yang dilakukan kepada kedua korban bukanlah tindakan yang urgensi namun jika kedua korban tetap ditahan kami menduga upaya penahanan yang dilakukan oleh Polsek Patumbak adalah bentuk diskriminasi, kriminalisasi yang tujuannya untuk melemahkan kedua korban agar mencabut laporannya terdahulu di Polda Sumut dan berdamai dengan AS," ucap Roy.

TAGS : Penyiksaan Aparat Kontras Polda Sumut




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :